Kisah Suraij al Abid

The Great Power of Mother

Bayi yang baru berusia 24 hari itu akhirnya berbicara. Ia tidak asal berbicara memilih kata, tetapi yang ia lontarkan adalah fakta. Fakta bahwa ayah kandungnya yang sebenarnya bukanlah sang Suraij al ‘Abid, sebagaimana yang dituduhkan oleh masyarakat waktu itu, melainkan seorang penggembala kambing yang bermaksiat dengan seorang perempuan pezina.

 Kisah Suraij al ‘Abid

 Adalah Suraij al Abid, seorang hamba yang taat dan tekun beribadah. Suatu hari, ketika sedang bersembahyang, ia dipanggil oleh ibunya. Ada keraguan di dalam hatinya, antara melanjutkan ibadahnya, atau menyahut panggilan sang ibunda. Sampai akhirnya sang Suraij melanjutkan sembahyangnya meskipun sang ibu sudah memanggil beberapa kali. Terluka dan tersakiti hatinya, akhirnya sang ibunda berdoa: “Ya… Allah, sesungguhnya anakku telah mengabaikan panggilanku. Maka janganlah kau matikan ia sebelum ia mendapatkan fitnah yang keji bersama seorang perempuan hina…”

Dan ternyata Allah SWT kabulkan doa sang ibunda, yaitu ketika hujan turun di suatu hari, sehingga memaksa seorang perempuan pezina yang sedang berjalan untuk berteduh dari derasnya hujan di rumah ibadah di mana Suraij sering menghabiskan waktunya untuk menghadap Tuhannya. Dan ternyata seorang penggembala kambing juga ikut berteduh di sana. Sampai akhirnya ketika syaithan berhasil memperdayai sepasang manusia ini, dan akhirnya mereka berbuat maksiat di sana.

 Sampai akhirnya ketika sang bayi lahir dari perempuan tersebut, masyarakat bertanya tentang siapa ayahnya, dan dengan serta merta sang wanita pezina mengatakan: “Sesungguhnya… ayah dari bayi ini adalah Suraij, seorang hamba yang menghuni rumah ibadah di sana…”

 Besarnya otoritas ibunda

 Ridho allah adalah ridhonya orang tua. Kebahagiaan kita di dunia dan akhirat adalah implikasinya. Rasulullah SAW sering menyandingkan amalan-amalan seperti jihad dan shalat dengan amalan berbakti kepada ibunda. Temukan, apa saja keutamaan yang diberikan Allah SWT kepada seorang perempuan yang kita panggil ibunda.

 Berhati-hatilah kalau kamu masih punya ibunda

 Ketika kita masih punya si “wanita mulia” ini di rumah, maka berhati-hatilah dalam bersikap dan berinteraksi dengannya. Sering sekali kita beranggapan biasa saja terhadap perbuatan “kecil” kita kepada ibunda, padahal perilaku itu melukainya. Padahal perbuatan itu ada ganjarannya, dan tidak sekedar ganjaran melainkan ganjaran yang langsung kita terima di dunia bahkan beberapa saat saja setelah kita melukai perasaannya. Makanya, ketahuilah perbuatan dan perilaku apa saja yang kita akan dianggap telah mendurhakainya ketika perbuatan tersebut kita lakukan.

 Berbahagialah kalau kamu masih punya ibunda

 “Merugilah orang yang hidup bersama ibunya, sedangkan ia di akhirat tidak masuk ke dalam syurga” (Al-Hadits). Ibunda kita adalah tiket kita ke syurga. Beliau adalah kunci masuk kita ke pintu syurga, bukan sembarang pintu, melainkan pintu yang paling tengah. Makanya, ketahuilah perbuatan apa saja yang harus kita lakukan untuk ber-birrul walidain kepadanya. Berbaktilah kepadanya karena dialah tiket kita ke syurga.

 Rabbanaa.. ighfirlanaa wa liwaalidaynaa…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: